Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Oktober 2010

Catatan harian seorang ayah.....

Medan, 15 Juni 1975

Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun- tahun merindukan kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah nama untukmu; Qaulan Syadida.Aku sangat terkesan dengan janji Allah dalam surat Al Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur...

1981

Tahun ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun. Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu. Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu. Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri saudarimu yang lain.

1987

Putriku, sungguh aku pantas bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percaya diri di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku Qaulan...Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat kakakmu yang kalem dan cenderung memiliki sifat-sifat perempuan, engkau justru sangat angresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun padaku dan selalu juara kelas.

Jika hari Ahad tiba, engkau lebih suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain. Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku mengajar.

Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam menatapku. Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku. Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak...

1993

Tahun ini engkau menamatkan SMAmu. Engaku tumbuh menjadi gadis cantik, periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota kopassus datang mencarimu. Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan Islam...

Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Aku tidak behasil mendidikmu dengan cara yang Islami. Dalam doa-doa malamku selalu kebermohon pada Rabbul 'Izzati agar engkau dipelihara olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku.

Kesedihan makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki dan bukan satupun mahrommu? Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah melulu...Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima segala argumen dan pemikiranmu, putriku..Dan aku akan lebih bisa menerima seandainya engau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai masa kuliahmu.

1995

Tahun ini tidak akan pernah kulupan. Akan kucatat baik-baik...Engkau putriku, yang selalu kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah swt mendengar dan mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhannalah! Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku. Apa sesungguhnya yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu? Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini? Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.

1997

Putriku, kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau aku dan ibumu yang mendiami rumah ini. Kurasakan rumah kita seolah-olah berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi. Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu tengah menangis dalam sujud malammu....Selalu kuyakinkan diriku bahwa akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku...

1998

Putriku, kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu, diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda, semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku...Jika hari ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yang engkau pegan teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku...

1 Agustus 1999

Putriku, bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama. Akhir-akhir ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun. Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu para suami mereka. Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku. Jika aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku.

Putriku....kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan padamu. Aku percaya padamu...Jika aku memberikan buku ini padamu, itu karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa dulu aku sering memarahimu..maafkan buya, putriku... Kini hanya engkau satu-satunya harapanku...Aku percaya perguruan yang telah kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum kakekmu. Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah asrama pesantren...Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan kebenaran akan terlahir sebuah fauzan'adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku... Dalam diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal 'Alamiin.

12 Agustus 1999

Rabbi, jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi, perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. hanya Engkau..ya Mujib...

Happy Birthday to Buya
I Love you so muchTake from Annida November-Desember 1999 by Aisyah Shihab

Sabtu, 04 September 2010

FAKTA

History Lesson



Minta tolong guru sejarah jelasin ini jika mereka bisa.

Abraham Lincoln masuk kongres tahun 1846.
John F. Kennedy masuk kongres tahun 1946.

Abraham Lincoln terpilih jadi presiden tahun 1860.
John F. Kennedy terpilih jadi presiden tahun 1960.

Keduanya sangat peduli hak-hak sipil.
Kedua istri mereka kehilangan anak saat di gedung putih.

Kedua presiden ditembak hari Jumat.
Kedua presiden ditembak di kepala.

Semakin aneh nih.

Sekretaris Lincoln bernama Kennedy .
Sekretaris Kennedy bernama Lincoln .

Keduanya dibunuh oleh orang dari daerah selatan.
Keduanya digantikan oleh orang selatan yg bernama Johnson.

Andrew Johnson, yg menggantikan Lincoln , lahir tahun 1808.
Lyndon Johnson, yg menggantikan Kennedy, lahir tahun 1908.

John Wilkes Booth, yg membunuh Lincoln , lahir thn 1839.
Lee Harvey Oswald, yg membunuh Kennedy, lahir thn 1939.

Kedua pembunuh terkenal dengan tiga namanya.
Nama keduanya terdiri dari 15 huruf.

Tambah aneh yaaaa.

Lincoln ditembak di teater bernama 'Ford.'
Kennedy tertembak di mobil ' Lincoln ' dibuat oleh 'Ford.'

Lincoln tertembak di teater dan pembunuhnya bersembunyi di gudang.
Kennedy tertembak dari sebuah gudang dan pembunuhnya bersembunyi di teater.

Booth dan Oswald terbunuh sebelum diadili.

dan tau nggak.....

Seminggu sebelum Lincoln tertembak, dia berada di Monroe, Maryland
Seminggu sebelum Kennedy tertembak, dia bersama Marilyn Monroe.

Rabu, 25 Agustus 2010

Ternyata Rokok Tidak Berbahaya

Banyak orang khuatir bahaya rokok dan menakutinya, tapi setelah diselidiki
oleh beberapa pakar dalambidangnya ternyata rokok itu sama sekali tidak
berbahaya. Kemudian para pakar sepakat untuk membuktikannya dengan
mengambil dari beberapa hikayat pada zaman dahulu kala di mana kala itu
nenek moyang kitapun telah membuktikannya melalui beberapa percobaan.

Buktinya seperti cerita di bawah ini, dia tetap sehat walafiat. Untuk lebih
jelasnya dapat dibuktikan lewat penemuan oleh beberapa dari ahli di bawah
ini:

Pada zaman dahulu kala, ada tiga orang dokter. Mereka selalu bersama kemana
saja mereka pergi. Tapi ketiga-tiganya memiliki kegemaran berlainan.

A. dr Jon Sumawan (suka main perempuwan)
B. dr Jon Walker (suka minum minuman keras)
C. dr Jon Kretek (suka segala jenis rokok) ..

Suatu hari ketiga sahabat ini berjalan jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba
ketiganya bertemu dengan sebuah ketel/kendi (seperti cerita Aladin). Lalu
salah seorang mengambilnya lalu meng-gosok2kan ketel tersebut. Sejurus
kemudian asap keluar dari corong ketel tersebut dan secara perlahan berganti
menjadi satu makluk yang menyeramkan yakni sesosok jin yang ganas.

Lalu jin tersebut tertawa: 'Ha ha ha...' dan berkata 'Akulah Jin Ifrit!
Karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka aku akan tunaikan apa
saja permintaan kamu sekalian. Ketiga sahabat yang pada mulanya panik dan
takut menjadi gembira lalu termenung dan berpikir tentang peluang dan
kemauan masing-masing yang mungkin hanya sekali mereka jumpai dalam hidup
mereka. Lalu mereka memilih kemauan mengikuti
kegemaran masing-masing.

Berkatalah si A,'Aku mau perempuan-perempuan muda dari berbagai bangsa di
seluruh dunia dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku
selama 10 tahun.

Pufff ........!! dengan sekejap mata jin menyempurnakan permintaan si A.

Berkata si B, 'Aku mau semua jenis arak dari seluruh dunia untuk bekal
selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan
ganggu aku selama 10 tahun.'

Pufff .......... !! dalam sekejap mata jin menyempurnakan permintaan si B.

Berkata pula si C,'Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia untuk bekal
selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan
ganggu aku selama 10 tahun.'

Pufff ........... !! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan
si C.

Setelah genap 10 tahun, maka jin tersebut muncul kembali untuk membuka pintu
gua masing-masing sebagaimana yang dijanjikan.

Maka jin tersebut pergi membuka pintu gua si A, ketika dibuka maka keluarlah
si A dengan keadaan kurus kering, berdiri pun tidak bisa karena tidak
sanggup untuk menggerakkan lutut sebab hari-hari hanya memuaskan nafsu
dengan perempuan.

Tiba-tiba si A pun jatuh ke tanah lalu mati!!

Setelah itu jin tersebut pergi ke gua si B, ketika pintu dibuka maka
keluarlah si B dengan perut yang sangat buncit karena hari-hari
mabuk-mabukan. Jalan pun terhuyung-huyung.

Tiba-tiba si B pun jatuh ke tanah lalu mati !!

Setelah itu jin pergi ke gua si C dan membuka pintu gua. Tiba2 si C keluar
dalam keadaan sehat walafiat dan terus MENAMPAR si jin Sambil memaki si jin.

Dia berkata: JIN GUOBLOOOKK ...!!!! MANCISNYA MANA ...???!!!

Safety Lesson-nya : 'Rokok Tidak akan berbahaya, sepanjang tidak ada mancisnya'

:)

Selasa, 24 Agustus 2010

Mau Punya Tetangga, Musuh atau Teman?

Pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli.
Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.

Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?” Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda tetap sebagai teman.” Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut. Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.


Di samping rasa terimakasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasi buruan kepada petani. Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan, “Cara Terbaik untuk mengalahkan dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih.” Sama dengan ungkapan Amerika yang mengatakan,” Seseorang bisa menangkap lebih banyak lalat dengan madu dari pada dengan cuka." (Erabaru/isw)

Minggu, 08 Agustus 2010

Antara Pacaran & Segera Nikah

Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping mihrab mesjid. Mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air mata yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah. Begitu tak berdaya menghadapi seorang wanita. Ia telah tergila-gila pada wanita itu. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita malam. Suara wanita itu laksana nyanyian bidadari yang merasuk ke pori-pori jiwanya.

Ia menangisi dirinya yang tak lagi bisa merasakan nikmatnya berzikir. Menangisi hatinya yang tak lagi bisa khusyuk dalam shalat. Menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu. Oh, sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh. Orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita, popularitas keshalehannnya semakin dikenal dan menjadi buah bibir.

Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh. Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, hafal al-Qur`an, sopan dan lembut dan lain-lainya. Seorang wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju sorga. Seorang wanita yang semua kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya.

Hampir tiap malam ia menangis. Jika dulu, ia menangis di kegelapan malam karena dimabuk rindu pada Sang Pencipta, kini ia menangis karena dimabuk rindu pada makhluk-Nya. Apakah Allah tengah menguji dirinya. Apakah Allah tengah menguji kejujuran cintanya. Ataukah memang sudah waktunya ia menikah.

Ia teringat dengan pesan-pesan Ustadznya sebelum berangkat ke Mesir dulu, pesan-pesan yang masih terekam kuat dalam memorinya.

"Anakku, ketahuilah dalam perjalanmu menuntut ilmu nanti, kamu akan diuji dengan banyak hal, dengan kesusahan hidup, kesulitan biaya, lingkungan, kawan-kawan, dan lainnya. Teguhkan selalu niat di hatimu dan mintalah pertolongan pada Allah setiap waktu. Dan ingatlah, ujian terberat yang akan kamu hadapi nanti adalah wanita, maka berhati-hatilah menghadapi wanita. Jangan pernah mengikuti ajakan nafsu yang menyesatkan. "

"Anakku, berpacaran yang saat ini banyak digandrungi anak-anak muda adalah sikap laki-laki bermental kerupuk dan pecundang dan tipe wanita yang tak punya harga diri, menjalin hubungan secara syar`i dan menikahi dengan cara-cara yang baik, itulah akhlak seorang laki-laki yang didamba dan sikap seorang wanita calon penghuni sorga. Bila godaan itu terasa berat bagimu, berpuasa tak sanggup mengobatimu, maka menikahlah, insya Allah itu lebih berkah dan mengantarkan pada kebaikan."

"Anakku, jika kamu mengira berpacaran itu adalah jalan menuju pernikahan, maka engkau telah tertipu oleh nafsumu. Engkau telah termakan bujuk rayu setan durjana. Apakah engkau mau memetik buah dari pohon sebelum waktunya? Apakah engkau mau membeli barang yang telah usang dan pernah dipakai orang?"

"Anakku, janganlah engkau mengira, pacaran yang Ustadz maksud bertemu dan jalan berdua-duan semata, tapi jagalah matamu, pendengaranmu, hatimu dan pikiranmu. Janganlah menjadi pemuda yang lemah. Ingatlah, engkau adalah pemimpin, jangan biarkan hawa nafsu yang memimpinmu."

"Jika suatu saat nanti, dorongan untuk menikah begitu kuat dan menyesak di dadamu, engkau merasa telah siap, namun orang tua belum merestui dan ada jalan lain yang menghambat. Ustadz sarankan, bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah. Sembari terus mencoba dan berdoa tiada henti pada Allah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan ketahuilah, orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang berlipat, dan orang-orang sabar akan memetik mutiara iman yang begitu banyak dalam kesabarannya itu. Dan yakinlah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada banyak kemudahan."

"Anakku, jangalah engkau tergoda oleh nafsumu, janganlah engkau tertipu dengan bisikan musuhmu, setan durjana. Mungkin Allah tengah mengujimu, dan menyiapkan untukmu hadiah yang indah. Maka selalulah berbaik sangka pada Allah."

Nasehat-nasehat berharga itu begitu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang gelisah. Tapi, itu hanya bertahan sebentar, ledakan perasaannya pada wanita itu ternyata lebih dahsyat dan meluap-luap. Pesan-pesan itu hanya bertahan sesaat, lalu ketika desakan perasaan itu kembali merasuki jiwa, ia menjadi begitu rapuh dan lemah.

Sampai pada akhirnya ia menelpon Ustadznya di Indonesia. Ia menceritakan kegelisahan hatinya, keresahan jiwa, dan gejolak rasa yang selalu menyesak di dadanya. Ustadznya berpesan kembali,

"Anakku, Ustadz bisa memahami keadaanmu, barangkali sudah waktunya bagimu untuk menggenapkan setengah agamamu. Ustadz sarankan lakukanlah shalat istikharah, jika engkau menemukan ada tanda-tanda ke arah sana, maka lakukanlah shalat hajat sebanyak-banyaknya, insya Allah, mudah-mudahan dengan cara demikian Allah membuka jalan untukmu. Mintalah pada Allah dengan air mata penuh harap, menangislah sejadi-jadinya di hadapan Allah. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya."

Satu tahun kemudian, sesudah kesabaran yang panjang, setelah menyelesaikan hafalan al-Qur`annya, ia pun menggenapkan setengah agamanya di penghujung bulan Juni 2010. Ia sangat bahagia. Kebahagiaan yang tak bisa dlukiskan dengan kata-kata. Ia telah menikah dengan wanita dambaannya, seorang wanita sorga yang Allah hadirkan ke bumi untuknya. Allah telah memilihkan untuknya seorang pendamping hidup yang mecintai Allah dan dirinya dengan sepenuh jiwa dan raga.

Tak sia-sia selama ini ia menjaga dirinya dari tergelincir pada perbuatan yang haram. Ia sampaikan kerinduannya terhadap wanita itu pada Allah setiap malam, ia titipkan penjagaan untuk wanita itu pada Allah setiap saat. Ia hantarkan doa-doa penuh ketulusan untuk kebaikan dan keselamatan wanita itu selama ini. Dan kini, Allah mengizinkannya untuk memetik buah kesabarannya selama ini. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang berserah diri pada-Nya.

Selasa, 03 Agustus 2010

Berpikir Dari Sudut Pandang Lain

Ada sepasang suami istri beserta seorang anaknya seharian mencari rumah kontrakan, dengan tubuh letih mereka melihat rumah kontrakan satu per satu, tetapi tetap saja belum mendapatkan rumah yang sesuai dengan keinginan.

Akhirnya pada sore hari muncullah sebuah kemukjizatan, pasangan tersebut menemukan sebuah rumah kontrakan yang sesuai dengan keinginan. Mereka buru-buru ingin membayar uang muka rumah itu, karena menurut mereka rumah itu sangat bagus. Ruang tamu layak sebagai ruang tamu. Kamar mandi layak sebagai kamar mandi. Mereka tidak menyukai rumah yang ruang tamunya kelihatan seperti kamar mandi, runyam dan kotor. Mereka juga tidak ingin memiliki rumah kontrak-an yang mempunyai kamar mandi seperti ruang tamu, sangat mewah.



Pemilik rumah itu seorang pria lanjut usia. Pria tua ini berkata, “Jika ingin mengontrak rumah ini, kriterianya hanya satu. Yakni saya tidak mengontrakkan rumah ini kepada keluarga yang mempunyai anak kecil.” Sepasang suami istri tersebut saling berpandangan dengan perasaan kecewa.



Si suami berkata, “Tetapi... bagaimana pendapat Anda tentang anak yang di samping kami ini?”

Si istri tiba-tiba menyela, “Dia cuma hiasan!”

Si suami berkata, “Istriku! Tak kusangka, demi mengontrak rumah engkau menganggap anak kita sebagai benda hiasan?!”

“Huh.. saya benar-benar menyukai rumah itu. Tidak kusangka malah dibebani persyaratan yang merepotkan ini!”



Ketika suami istri akan meninggalkan tempat itu, anak mereka berbalik dan memencet bel rumah pemilik kontrakan itu lagi. Ting tong....



Orang tua itu membuka pintu, dengan tersenyum dia berkata, “Ada persoalan apa lagi, Hiasan? Ho ho ho!”

Anak kecil itu berkata, “Kakek, saya ingin mengontrak rumah.”

Orang tua itu berkata, “Mengontrak rumah? Saya tidak mengontrakkan rumah ini kepada keluarga yang mempunyai anak kecil lho.”

“Saya tahu! Saya hanya memiliki seorang ayah dan ibu saja tidak ada anak kecil! Anda boleh mengontrakan rumah itu kepada saya!”

“Ha ha ha! Sungguh pandai sekali, Ok, rumah ini saya kontrakan kepada Anda,” kata orang tua itu.



Dalam kehidupan ini selalu ada banyak sekali persyaratan, tidak peduli persyaratan itu tentang permasalahan apa. Jika kita mengikutinya tanpa berpikir panjang, kadang kala bisa membuat kita tidak berdaya. Apakah Anda mempunyai pengalaman seperti ini?” Begitu menjadi suatu kebiasaan, maka logika yang kaku itu akan datang menyertai.



Kadang kala masalah sepele seperti menyeduh kopi saya tidak mengerti bagaimana memandang hal tersebut dari sudut pandang lain. Cobalah untuk membiasakan diri berpikir dari sudut pandang lain …… Tidak ada salahnya jika mengembangkan cara berpikir yang tak sama.

Minggu, 01 Agustus 2010

Cerpen Mencari Bakat

Aku harus temukan bakatku! Ini tekadku sekarang. Sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat dan ditunda lagi. Cukup sudah 20 tahun aku hidup tanpa tahu apa bakatku.

Tekadku ini bermula ketika aku menonton pertandingan karate Sarah, teman kampusku. Aku berdecak kagum melihat kepiawaiannya saat tanding. Dulu aku tak menduga gadis manis yang imut-imut itu adalah atlet karate. Saat tahu, aku benar-benar berdecak kagum. Bukan hanya karena ia seorang karateka profesional, tapi juga karena ternyata ia sudah menekuni bidang ini bahkan sejak ia belum bisa membaca. Umur 5 tahun! Kaget aku mendengarnya. Katanya, ayahnya juga seorang karateka dan sejak umur 5 tahun itulah ayahnya mengajarinya karate. ”Setelah dijalanin, ternyata karate emang enak dan gue ngerasa banget emang bakat gue disitu” ujarnya saat itu. Oo..aku hanya bisa ber-o panjang. ”Dan kalau kita tekunin bidang yang emang bakat kita, pasti kita berhasil deh!” tambahnya lagi. Begitu ya. Jadi, kalau udah bakat jalaninnya bakal gampang dan gampang berhasil juga. Padahal dari dulu aku lebih suka memperhatikan orang lain daripada diriku, apa kesukaan mereka, keahliannya, dan macam-macam lainnya. Tapi ucapan Sarah menggetarkanku.

Aku pegang ucapan Sarah itu dan bertekad akan mencari apa bakatku sebenarnya. Dari dulu, aku tak pernah fokus terhadap satu bidang. Saat TK, ada lomba mewarnai aku ikut, ada lomba melukis juga ikut, lomba baca puisi, peragaan busana sampai lomba sholat berjamaah aku ikuti. Saat SD juga sama. Tapi, prestasi yang aku capai dalam bidang-bidang tersebut juga biasa saja. Paling-paling juara harapan atau paling hebat juara III, tidak pernah menembus juara I. ”Yah...anak saya memang nggak bakat lukis bu...” itu ucapan ibu kepada Tante Mia, ibunya Mayang temanku, yang aku ingat saat mengantarku ikut lomba lukis dulu waktu aku kelas 3 SD di Taman Mini. Saat itu aku tidak menang sedangkan Mayang berhasil menggondol sebuah piala emas besar bertuliskan ”Juara I”. Saat itu aku hanya cengar-cengir saja. Wajar saja Mayang menang. Sejak TK, ia memang sudah sering menang perlombaan serupa. Waktu aku ke rumahnya, piala nya banyak sekali dan memang mayoritas dari hasil lomba melukis. Orangtua Mayang juga sangat mendukung anaknya dengan membelikan peralatan lukis yang bagus-bagus dan memasukannya ke sanggar lukis ternama.

Jadi aku tidak menang karena aku tidak berbakat. Jadi aku santai saja. Mungkin memang bakatku tidak disitu. Pasti di tempat lain. Itu pikirku saat itu. Dan sampai sekarang, 10 tahun sejak peristiwa perlombaan itu, aku masih belum menemukan dimana bakatku. Kata orang bakat itu musti dicari. Kalau tak dicari, takkan ditemukan. Maka, perjalananku mencari bakat dimulai.

Aku pernah mencoba menyanyi. Iseng-iseng ikut lomba karaoke saat 17 Agustusan di daerah rumahku. Sebelum tampil, nyaliku sedikit ciut karena peserta lain benar-benar memiliki suara yang aduhai. Saat giliranku tiba, aku makin deg-degan. Lagu dimulai. Aku mulai menyanyi perlahan. Aku merasa suaraku seperti suara kodok. Namun, aku tetap memaksakan diri tersenyum dan menyanyi karena di bawah panggung sana keluargaku memberiku semangat sambil bertepuk tangan. Sampai tiba pada bagian reff lagu, nada pada bagian itu cukup tinggi. Saat latihan pun, aku kadang kesulitan mencapai nada tersebut. Apalagi sekarang dalam suasana grogi dan dilihat banyak orang. Dan....hiiik. ..akhirnya aku tak berhasil mencapai nada tinggi tersebut. Suaraku seperti orang yang tercekik dan seketika itu pula para penonton riuh menertawakanku. Cukup sudah menyanyi! Tak ada bakat disana!

Setelah peristiwa yang menjatuhkan harga diriku tersebut, aku benar-benar yakin bakatku bukan pada seni. Mungkin olahraga. Ya! Olahraga! Akhirnya mendaftarlah aku di tempat latihan karate Sarah. Dengan harapan mungkin disinilah bakatku. Walaupun aku pemula dan Sarah sudah jauh tingkatannya diatasku tapi aku tak peduli. Aku latihan tiga kali seminggu. Senin, Rabu, dan Jum’at. Awalnya aku bersemangat karena ini pertama kalinya aku ikut latihan bela diri seperti ini. Namun, lama-lama aku kelelahan sendiri. Latihan tiga kali seminggu dan sampai malam membuat kondisi fisikku drop. Belum lagi setiap pulang latihan badanku pasti pegal dan ngilu-ngilu. Duh! Bukannya bakat yang ditemukan, malah habis uang untuk beli balsem!

Setelah itu aku mau mencari bakat yang tidak membuat fisikku sakit. Aku mau mencoba menulis. Ini karena Mia, teman sekampusku, yang sering sekali menulis. Ia sering menulis apa saja. Cerpen, puisi, ataupun artikel yang kemudian dipajang di mading kampus atau dikirimkannya ke majalah-majalah. Menulis tidak akan membuat badanku ngilu-ngilu seperti latihan karate. Maka aku mau mencobanya.
”Mi, nulis susah gak sih?” tanyaku suatu ketika pada Mia.
”Nggak kok. Coba aja dulu. Nulis puisi kek atau apa gitu”
”Lo awalnya kenapa tertarik nulis?” tanyaku lagi.
”Iseng aja sih awalnya. Eh, ternyata keterusan. Lagipula gue orangnya gak bakat ngomong. Gak bisa gue ngomong di depan orang banyak gitu. Jadi, gue lebih baik nulis. Mungkin bakat gue gak di ngomong, tapi di nulis” jelasnya.
Oh...bakat lagi. Makin mantap aku menulis. Mungkin disinilah bakatku ditemukan.

Enam bulan kemudian aku berhenti menulis. Bukan...bukan karena badanku jadi pegal-pegal atau karena ditertawakan orang. Tapi aku kesal. Habis, ketika sedang semangat-semangatny a menulis aku bisa menulis sampai tiga buah puisi setiap harinya. Setiap minggu bisa menghasilkan satu artikel dan cerpen. Namun, setiap yang aku kirim ke majalah tidak pernah dimuat. Mading-mading kampus pun tak mau menerima. Kurang ilmiah katanya. Huh...padalah sudah semangat dan susah payah begini. Kalau bakat nggak mungkin ditolak, pikirku instan. Jadi, tinggalkan menulis.

Bakatku pasti ada di suatu tempat dan telah memanggil-manggilku meminta untuk ditemukan sejak 20 tahun yang lalu. Tapi entah mengapa aku tidak pernah mendengar panggilan itu. Sayup-sayup nya pun tak pernah. Mungkin bakatku bersembunyi mengharap aku mencari dan menemukannya. Tapi karena sekian lama tak kucari-cari jangan-jangan ia bosan memanggilku. Hingga sampai sekarang ia sampai lupa keluar dari persembunyiannya. Duh...apa memang begitu ya?
Pikiranku itu membuatku malas untuk mencari tahu lagi bakatku. Sudahlah, lupakan bakat. Jalani saja semuanya tanpa bakat. Toh, 20 tahun ini aku masih bisa hidup tanpa bakat. Sekarang, aku kembali lagi kepada kesukaanku yang dulu, memperhatikan orang-orang yang sudah atau sedang berusaha mencari bakat mereka. Aku makin senang memperhatikan Sarah yang makin cinta dengan karatenya, makin sering membaca tulisan-tulisan Mia, dan memperhatikan sikap-sikap serta kesukaan teman-temanku yang lain.
Kebiasaanku mengamati orang ternyata membuatku cukup mendalami karakteristik seseorang. Makin lama, makin mudah bagiku untuk menganalisa mereka. Hal ini tanpa disadari membuatku tahu bakat-bakat terpendam mereka. Menyedihkan memang mengetahui bakat orang lain namun tak bisa menemukan bakat diri sendiri. Tapi biarlah, daripada capek memikirkan bakat sendiri lebih baik mengamati orang lain.
”Kalau aku lihat, bakatmu memang bukan di bidang menyanyi Ras” aku berujar sewaktu aku sedang bersama Laras, teman sejurusanku, di kantin.
Saat itu Laras sedang mempertanyakan mengapa hobi menyanyinya tak kunjung membuatnya berhasil. Setiap lomba yang diikutinya tak pernah menang. ”Padahal aku suka sekali menyanyi lho” ujarnya waktu itu.
”Yang aku lihat, kamu lebih berbakat di akting, bermain teater sepertinya cocok untukmu” tambahku.
”Masa sih? Lo tau darimana?” tanyanya heran.
”Gue inget waktu kita SMA dulu lo pernah main drama kan, akting lo bagus. Trus juga gue liat suara lo bisa membantu lo”
”Iya sih. Kadang gue juga ngerasa gitu. Tapi gue gak pede aja. Gak yakin gue bisa. Kalo nyanyi kan emang udah dari dulu gue hobi. Walau kaga menang-menang”

Dan setelah percakapan kami itu, beberapa hari kemudian ia mendaftarkan diri pada sebuah klub teater fakultas. Beberapa bulan kemudian, aku dengar dia mengalami kemampuan pesat. Ia anak baru namun sering mendapat peran utama setiap tampil. Ternyata hobi menyanyinya membantunya dalam teknik berbicara dalam teater. Suaranya lantang dan pengucapannya jelas.

”Ternyata suara gue emang bukan buat nyanyi kali yah. Lebih oke kalo gue pake buat teater” ujarnya beberapa bulan kemudian.
Setelah masalah Laras, aku makin suka menganalisa kemampuan seseorang.

”Gak papa kamu gak jago statistik, kamu tuh oke banget di marketing” saranku pada Siska suatu waktu saat dia curhat tentang nilai statistiknya yang selalu bisa ditunjukkan hanya dengan jari di satu tangan.
”Gue liat lo gak suka hitungan. Lo lebih suka berhubungan dengan manusia daripada angka. Cara lo berbicara bisa mempengaruhi orang lain” tambahku.

Siska manggut-manggut mungkin sambil berpikir ’iya juga yah”. Setelah Siska, aku bertemu dengan Randy yang kulihat sangat berbakat bermain alat-alat musik. Jiwa musiknya kental sekali terlihat. Namun, bakatnya sering ia lupakan seiring kesibukan tugas kuliah. Padahal ia sungguh pemain musik yang sangat berbakat. Aku juga sempat berbincang dengan Galih, yang kuliahnya sering berantakan dan terlupakan, bahwa ia sebenarnya luar biasa berbakat dalam sepakbola.

Setelah teman-teman kuliahku, aku juga sering menganalisa bakat-bakat dari murid-muridku di bimbel yang aku ajar. Awalnya hanya beberapa orang yang suka curhat padaku, tapi lama kelamaan menyebar dan hampir semuanya sering minta pendapatku ketika memilih jurusan untuk kuliah nanti.

”Kamu suka sekali membuat cerpen dan puisi, ditambah kecintaan kamu pada budaya Prancis, aku pikir kamu cocok di sastra, sastra Prancis mungkin” saranku pada seorang muridku.

”Kamu kan sering dimintai curhat dengan teman-temanmu, saran-saran kamu pun mereka anggap adalah saran yang terbaik. Psikologi aku rasa cocok” saranku pada murid kedua.

”Wah...kamu suka sekali baca koran kan? Kalau dengar kamu bicara, kepedulian kamu akan masa depan perekonomian Indonesia sangat besar. Ditambah nilai ekonomi kamu yang bisa dibilang sempurna dan kamu suka sekali berasumsi. Hmm..ilmu ekonomi” saranku pada murid yang lainnya.

Dan begitulah. Akhirnya aku lebih sering menggali apa bakat-bakat terpendam orang lain dan berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka mampu di bidang itu. Sampai suatu saat seorang temanku bertanya, ”Kalo lo sendiri bakatnya apa?”. Aku hanya senyum-senyum mesem.

6 tahun kemudian.
------------ --------- ---
Pekerjaanku cukup menyenangkan. Ditambah dalam pekerjaan ini aku bisa bertemu banyak orang dan menganalisa mereka. Aku bekerja di bagian talent agent sebuah stasiun televisi swasta. Setelah sebelumnya aku bekerja di bagian HRD, dimana aku bisa menganalisa kemampuan dan minat dari seseorang, sekarang aku dipindah di bagian talent agent.
Setelah sekian lama aku mencari bakatku dengan melukis, menyanyi, menulis, bahkan sampai karate akhirnya aku menemukan bakatku yang sudah bersembunyi sekian lama tersebut. Ternyata bakatku tidak perlu dicari seperti orang yang mencari jarum dalam jerami. Karena sebenarnya jerami-jerami itulah bakatku. Ia sudah ada sejak lama hanya aku tidak menyadarinya. Akhirnya aku tau bakatku: pencari bakat!

Sumber : www.women.multiply. com

Rabu, 21 Juli 2010

Bunda, mandikan aku..sekali ini saja.. please.....

Rani, sebut saja begitu namanya.
Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi.
sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya.
"Why not the best," katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya.
Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang "selevel"; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka,lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.

Konon, nama putera mereka
itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir
"ya", jadilah nama yang enak didengar: Alifya.
Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila.
Bak garuda, nyaris tiap hari
ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, "Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? "
Dengan sigap Rani menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala
sesuatunya. Everything is OK!" Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.

Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal.
Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya.
Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. "Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun,
Rani bercerita kalau dia minta adik.
Terkejut dengan permintaan
tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya.
Kesibukan mereka belum
memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif.
Lagi-lagi bocah kecil ini
"memahami" orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek
minta adik.
Alif, tampaknya mewarisi
karakter ibunya yang bukan perengek.
Meski kedua orangtuanya
kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif
selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya
"malaikat kecilku".

Sungguh keluarga yang
bahagia, pikir saya.
Meski kedua orangtuanya
super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta.
Diam-diam, saya iri pada
keluarga ini. Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa
Alif menolak dimandikan baby sitter. "Alif ingin Bunda mandikan,"
ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat
diperhitungkan, gusar.
Ia menampik permintaan Alif
sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya.
Suaminya pun turut membujuk
Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan
pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai
hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku!"

kian lama suara Alif penuh
tekanan.
Toh, Rani dan suaminya
berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak
lebih minta perhatian.
Setelah dibujuk-bujuk,
akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya
dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter, Alif demam dan
kejang-kejang. Sekarang di Emergency." Setengah terbang, saya ngebut ke
UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya rencana lain.
Alif, si malaikat kecil,
keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang
meresmikan kantor barunya.
Ia shock berat. Setibanya di
rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
Setelah pekan lalu Alif
mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan
anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani
terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. "Ini Bunda Lif,
Bunda mandikan Alif," ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi.
Satu persatu rekan Rani
menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah
telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara.

Berkali-kali Rani, sahabatku
yang tegar itu, berkata, "Ini sudah takdir, ya kan.
Sama saja, aku di sebelahnya
ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga
kan?" Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak
perlu hiburan dari orang lain.
Suaminya mematung seperti
tak bernyawa.
Wajahnya pias, tatapannya
kosong. "Ini konsekuensi sebuah pilihan," lanjut Rani, tetap mencoba
tegar dan kuat.
Hening sejenak.
Angin senja meniupkan aroma
bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut. "Aku ibunyaaa!" serunya
histeris, lantas tergugu hebat.
Rasanya baru kali ini saya
menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak.
"Bangunlah Lif, Bunda
mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja,
Aliiif.."

Rani merintih mengiba-iba.
Detik berikutnya,ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya
membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

Note:
Nasi sudah menjadi bubur,
sesal tidak lagi menolong. Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan
sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran',
asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya
yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.

Sering kali orang takabur
dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan
hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan
ada. Pelajaran yang sangat menyedihkan.

Sabtu, 17 Juli 2010

KISAH RAJAWALI

Rajawali adalah jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di
dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Untuk mencapai umur sepanjang
itu seekor Rajawali harus membuat KEPUTUSAN yang sangat berat pada
umurnya yang ke-40. Ketika Rajawali berumur 40 tahun, cakar dan paruhnya
mulai memanjang dan bengkok bahkan paruhnya mulai menyentuh dada.
Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan
tebal, sehingga menyulitkannya untuk terbang. Pada saat itu, Rajawali
hanya mempunyai dua pilihan: menunggu kematian atau mengalami suatu
proses transformasi yang sangat menyakitkan, proses transformasi yang
panjangnya 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, Rajawali harus berusaha keras terbang
ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang,
berdiam dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama Rajawali harus mematukkan paruhnya pada batu karang hingga
paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama
menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu,
Rajawali harus mencabut satu per satu cakarnya, dan ketika cakar-cakar
baru sudah tumbuh Rajawali akan mencabut bulu badannya satu demi satu.
Proses yang sangat panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian,
bulu-bulu Rajawali yang baru tumbuh. Rajawali dapat terbang kembali,
dengan paruh dan cakar baru. Rajawali akan menjalani hidup barunya 30
tahun kemudian dengan energi dan semangat baru.

Dalam kehidupan ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan,
mungkin sangat berat, untuk memulai suatu proses pembaruan. Kita harus
berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun
kebiasaan itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan membuat kita terlena.
Kita harus rela meninggalkan perilaku lama agar mulai dapat
terbang' lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.
Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk
belajar hal baru, kita akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan kita yang masih terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap
masa depan dengan penuh keyakinan.

Halangan terbesar untuk berubah terletak pada diri kita sendiri. Kitalah
sang penguasa atas diri kita. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa
dan melayukan semangat kita. Kitalah Rajawali-Rajawali itu. Perubahan
pasti terjadi.

KITA HARUS BERUBAH.

Sumber : Milis eSKa

Senin, 12 Juli 2010

DIBALIK KISAH SEORANG AYAH

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Bapak?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Bapak-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Bapak bekerja dan dengan wajah lelah Bapak selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......

Bapak biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Bapak mengganggapmu bisa, Bapak akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Bapak, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Bapak dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Bapak akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Bapak melakukan itu karena Bapak tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Bapak yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu Bapak benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada Bapak untuk dapat izin keluar malam, dan Bapak bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Bapak melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Bapak, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Bapak, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Bapak memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Bapak sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Bapak akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Bapak sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Bapak merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Bapak melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Bapak adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Bapak akan mengeras dan Bapak memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Bapak akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Bapak"
Setelah lulus SMA, Bapak akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Bapak itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Bapak tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Bapak
Ketika kamu menjadi gadis dewasa....

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...

Bapak harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Bapak terasa kaku untuk memelukmu?

Bapak hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati.

Padahal Bapak ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Bapak lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Bapak melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Bapak.

Bapak pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Bapak tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Bapak adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Bapak, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Bapak belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Bapak merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Bapak adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Bapak akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Bapak untuk mengambilmu darinya.

Bapak akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Bapak tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....

Saat Bapak melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Bapak pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Bapak pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Bapak menangis karena Bapak sangat berbahagia, kemudian Bapak berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Bapak berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Bapak hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Bapak telah menyelesaikan tugasnya....

Bapak, Ayah, Papa, atau Abah kita...

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Senin, 28 Desember 2009

Perjalanan

Si A sedang dalam perjalanan. Lama dah perjalanan dia. Dari satu destinasi ke destinasi dia mula kenal tentang kehidupan. Masih dalam ingatannya lagi bila dalam satu destinasi, dia mula kenal huruf ABC, nombor 123, mula kenal kawan dan mula kenal alam remaja. Ah, dia merasakan kehidupannya sangat bermakna bila dapat mengenali semuanya ini dalam perjalanannya.

Si A masih dalam perjalanan. Dia berjalan sambil memerhatikan ragam manusia di sisi nya, di hadapannya, di tepinya dan di belakangnya. Dia masih memerhatikan. Masih mentafsir setiap apa yang berlaku di sekelilingnya. Benarlah kata-kata seorang ulama', manusia yang bijak adalah manusia yang membetulkan kekurangan diri melalui kesalahan orang lain.

Si A teruskan perjalanannya. Tidak puas memerhati, ada kala, dia turut terhenti dan bertanya kepada si pelaku. "Kenapa engkau buat macam tu?" Setelah lama masa mendengar masalah si pelaku, lalu jiwanya gundah merasakan setiap yang diceritakan itu benar. Dia turut menyalahkan si pesalah. Namun, dia bertuah kerana perjalanan yang jauh itu menjadikan dia banyak berfikir. "Aku tidak boleh mengikut kata sebelah pihak sahaja, aku kene tanya pada pesalah itu juga, mungkin ada yang aku tak tahu. ". Untuk tindakan bijak, si A mesti bertanya agar dia tidak turut bergelumang dalam dosa berburuk sangka. Lalu benarlah apa yang dia sangka, rupanya ada cerita lain di sebalik itu. "Ah, mujur pengalaman sudah mengajar aku untuk bertindak mengikut rasional"

Si A tidak jemu dengan perjalanannya. Dia merasakan perjalanannya sangat mengujakan. Lalu dia tidak sabar untuk memulakan langkahnya semula setelah berhenti seketika memikirkan masalah yang dihadapi. Dia masih memerhatikan manusia berpusu-pusu berlari, tapi terhenti lama di satu tempat. Setelah lama manusia itu terhenti, barulah dia meneruskan perjalanan. Teringat satu pesanan sahabatnya, dalam perjuangan, jangan cepat-cepat marak apinya, takut nanti bila sudah habis minyak tanahnya, apinya akan malap sebelum tiba masanya. Berbeza dengan api yang sederhana, tapi terang dan cahayanya masih bertahan lama. Lauk pun tak cepat hangus, malah lebih sedap pulak dari api yang marak tadi yang hanya masak di luar tapi mentah di dalam. Ah, bahagianya ada pengalaman ini.

Si A tidak pernah mengalah, dia tetap bersemangat dengan perjalanannya. Masih teriang-iang di hati dan di kepalanya untuk menyerahkan kayu api yang dia cari ini untuk TUANnya. Dia rasa bahagia dalam mencari kayu apinya itu kerana dengan kayu apinya itulah dia dapat berjasa pada TUANnya. Dapat masakkan untuk TUANnya, malah dapat menggembirakan TUANnya. Tapi, dia melihat seorang manusia itu, mengutip kayu api yang basah untuk TUANnya. "Ish, sebagai seorang hamba, adakah wajar dia melakukan sedemikian. Kan seolah-olah tidak ikhlas nampaknya. Semoga kayu api aku semuanya dalam keadaan yang baik". Gurrrrrr. Bunyi guruh menandakan hujan akan turun pada bila-bila masa sahaja. Belum pun sempat si A hendak mencari tempat berteduh, kayu api nya telah basah kerana hujan turun. "Astagfirullah, macam mana dengan kayu aku ini" Lalu dia terfikir apa yang dia telah sangka-sangkakan pada seorang hamba tadi. Lalu dia beristigfar. Tidak sepatutnya dia menyangka bukan kerana sebuah hadis qudsi telah menyatakan bahawa ikhlas itu adalah rahsiaKU. Astagfirullah. Namun dia masih meneruskan perjalanan, tanpa disedari, cahaya matahari yang menyinar terang telah mengeringkan kayu apinya. "Mudah-mudahan kayu api ku ini akan terus dalam keadaan terpelihara sehingga aku sampai bertemu dengan TUANku.

Si A menerima pelajaran dari apa yang berlaku tadi. Lalu, dia semakin berhati-hati. Tiba-tiba dia terjumpa dengan seorang lelaki tua yang dalam keadaan dhaif, yang tidak punya apa-apa. Lalu dia menghulurkan bantuan. Dia terhenti sebentar dan mendengar kisah lelaki tua itu. Dia kata, dia sesat, dia ingin mencari jalan pulangnya tapi tidak bertemu. Lalu si A merasakan simpati. "Apa kata pakcik ikut sama dalam perjalanan saya, mana tahu, pakcik akan ingat sambil mengikut saya nanti" Lelaki tua itu berasa gembira sekali lalu dia mengikut si A dalam perjalanannya. Dalam perjalanan dia mengajarkan tentang kegunaan kayu api, dan apa yang boleh dibuat kayu api. Dia juga memberi sedikit kayu api untuk menghangatkan badan pakcik itu. Lelaki itu berasa bersyukur sangat lalu dia sangat berhajat untuk memberikan satu kunci rumah kepada si A. Pada mulanya si A keberatan tetapi setelah dipujuk-pujuk lalu dia menerima. "Engkau akan bertemu dengan sebuah rumah dalam perjalanan engkau nanti. Masuklah dan segala isi di dalamnya adalah milik engkau" Begitulah pakcik itu berkata. Di suatu hentian, pakcik itu berkata, "Pakcik dah ingat tempat ini, pakcik minta diri dahululah ye, satu hari nanti kita pasti akan bertemu semula. Semoga selamat dalam perjalanan" Lalu si A melambai-lambai tangan kepada pakcik itu tanda perpisahan.

Si A masih meneruskan perjalanan. Sambil dia tercari-cari alamat rumah yang dia katakan. Apakah isi di dalamnya?. Tiba-tiba, dia terhenti pada sebuah rumah agam yang besar. "Betul ini alamatnya. Tak ku sangka pakcik tadi kaya rupanya." Lalu si A mengetuk pintu, dan keluarlah seorang wanita yang cantik bak bidadari. "Siapakah tuan hamba ini dan atas urusan apakah tuan hamba bertandang ke rumah ayah hamba?". Lalu si A menyatakan peristiwa yang menimpanya. Wanita itu mendengar dengan khusyuk sambil ditemani dayang-dayangnya. Dan wanita itu tersenyum lalu si A terpaku dan melopong dengan keayuan bidadari dunia itu. "Benarlah cerita yang tuan hamba nyatakan dan hamba bersedia untuk memenuhi keperluan separuh tuan hamba. Lelaki yang tuan hamba bertemu itu telah mewasiatkan bahawa akan ada satu lelaki datang memegang kunci itu yang dia katakan bahawa lelaki itulah pembimbing hamba. Hamba harap tuan hamba sudi menerima hamba sebagai isteri tuan." Lalu terkejut mendengar perkataan wanita itu, dia meminta izin pada wanita itu untuk mengutus surat pada TUANnya agar mengizinkan dia untuk beristeri. "Harap tuan puteri dapat menerima permintaan hamba ini kerana hamba ini milik TUANku, dan hamba perlu menunggu surat balasan dariNYA". Lalu si A berutuslah surat pada TUANnya. Selang beberapa lama, dia mendapat surat balasan yang menyatakan bahwa dia dibenarkan untuk beristeri. Lalu, berlakulah ijab dan qobul. Si A bertambah gembira kerana ada pembantu di sampingnya dan isterinya juga telah mencukupkan keperluannya untuk memenuhi permintaan TUANnya di dalam surat itu agar membawa kayu api yang lebih banyak.

"Sayangku, aku ingin meneruskan perjalananku. Lalu aku ingin membawa adinda turut serta dalam perjalanan bertemu TUANku. Sudi kiranya bidadari ku hadir bersama bertemu dengan TUANku?". Lalu, satu senyuman yang sangat indah terukir di wajah isterinya, "Bukankah kedudukan isteri di sisi suaminya sentiasa? Dan aku akan sentiasa menurut kata kekanda" Lalu, bermulalah perjalanan sepasang suami isteri menuju ke tempat yang ingin dituju oleh suaminya. Dalam perjalanan, banyak suka duka yang mereka lalui. Sambil berjalan, mereka melihat pasangan-pasangan lain. Ada isterinya membentak-bentak mengheret suaminya ke jalan yang salah, lalu tersesat di dalam hutan, ada juga suaminya yang mabuk, lalu terhuyung hayang mengarahkan isterinya ke arah yang salah, dan ada juga kelihatan sepasang suami isteri yang kehadirannya menggamit masalahnya kepada pasangan yang lain. "Itulah kehidupan berumah tangga wahai isteriku. Dan aku ingin membawa engkau selamat sehingga bertemu TUAN kita di hujung jalan nanti. Aku harap agar engkau tidaklah mengikut contoh-contoh yang telah engkau lihat tadi." Si A berpesan pada isterinya lalu disambut oleh isterinya dengan jawapan, "Sesungguhnya kehidupanku dan perjalananku adalah untuk berbakti padamu, wahai suamiku" Lalu, mereka berpegangan tangan dan berjalan seiring bersama-sama.

"Aku luka, wahai isteriku. Pergilah bertemu dengan TUAN kita dan sampaikan pesananku yang aku akan sampai lewat" Dalam perjalanan, si A telah tercedera kerana tercucuk duri tajam yang berbisa dan dia terpaksa berhenti. "Tidak, aku tidak mahu meninggalkanmu, aku akan sentiasa di sisi engkau dan aku akan berusaha untuk mencari penawarnya" Lalu, menitis air mata si A kerana sesungguhnya dia memiliki isteri bukan sahaja bidadari dunia malah mempunyai keluhuran budi. Si A menyentuh wajah isterinya lalu dia tersenyum. Sepanjang si A dalam kesakitan, isterinya lah yang bertungkus lumus mencari penawarnya. Tidak sesekali pun terniat di hati si isteri untuk meninggalkan suaminya. Maka, segala usahanya telah membuahkan hasil, lalu, si A sembuh dan berupaya untuk meneruskan perjalanan. "Terima kasih isteriku"

"Makanan kita hampir habis. Takpalah, kita berteduh di sini dahulu dan kita bercucuk tanam. Boleh kiranya hasil tanaman kita nanti kita persembahkan pada TUAN kita nanti. Wah, banyaknya yang ingin kita persembahkan, kayu api, makanan, malah hasil tanaman. " Mereka berdua membina rumah, dan bercucuk tanam. Mereka melakukannya dengan penuh kasih sayang walaupun ada tanamannya itu mempunyai duri namun mereka masih memberikan kasih sayang kepada setiap tanaman tanpa mengurangkan sedikit pun. Namun setiap tanamannya mempunyai sukatan yang berbeza-beza dalam menggunakan air dan baja, lalu dengan kesesuaian tanaman itu, dia meletakkan secukupnya bagi setiap tanaman. Akhirnya menjadilah tanaman mereka. " Wah, bekalan kita sudah mencukupi, rasanya, elok kita memulakn perjalanan kita." Lalu, bermulalah perjalanan mereka semula sambil membawa hasil tanaman mereka dan kayu api. Tetapi perjalanan mereka tidak hanya dengan berjalan kaki sahaja. Mereka sudah mula membawa kenderaan bagi mengangkat semua hasil tanaman, kayu api dan semua bekalannya.

"Ah, isteriku, kita sudah hampir ke rumah TUAN kita. Aku harap agar TUAN kita akan gembira menerima apa yang kita bawa, dan semoga atas rahmatNYA, DIA sudi membenarkan kita berada di taman terindahNYA. " Dan mereka teruskan perjalanan dan tetap meneruskan perjalanan. Dan sesungguhnya penilaian TUANnya itu hanya mereka sahaja yang ketahui. Setelah apa yang mereka tempuh, semoga setiap surat-surat yang diutuskan dalam perjalanan mereka, TUAN mereka dapat menilainya dengan sebaiknya.

Kamis, 24 Desember 2009

Artikel 4 skenario

Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut.

Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangka n kaki.

Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.

Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada
kita.

"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih," kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.


Skenario 2

Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.

Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.

Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita.

Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang.
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata, "Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.

Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).

Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.


Skenario 3

Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta.

Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita.

Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.

"Halo, selamat siang, Pak. Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone
itu kembali kepada kita.

Orang yang menemukan handphone kita berkata, "Oh, ini handphone bapak ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya."

Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui "orang baik" tersebut...

Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.

Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?

Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.


Skenario 4

Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.

Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS : "Bapak / Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. "

SMS pun dikirim dan tidak ada balasan...

Kita sudah putus asa.

Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita.

Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.

Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut..

Bagaimana kira-kira perasaan kita?

Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu.

Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.

Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?

Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).


Moral

Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?

Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya.

Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.

Kita berikan dia ucapan terima kasih.

Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita turun dari kereta.

Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.

Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta.

Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.

Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita.

Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini.

Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik?

Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita, bukan?

Dia adalah orang pada skenario pertama.

Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.

Manakah orang yang paling tidak baik?

Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama itu.

Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita berikan lebih sedikit.

OK, kenapa bisa begitu?

Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario.

Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.

Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.

Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali.

Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.

Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.

Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone yang kita miliki.

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?

Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.

Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman kita.

Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.

Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.

Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?

Sebaiknya tidak.

Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada.

Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita.

Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.

Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.

Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.

Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

Rabu, 16 Desember 2009

PERCIKAN MUTIARA KEHIDUPAN

 Kenapa akhlak manusia itu tidak dapat dirubah, sedangkan akhlak binatang bisa dirubah ? (Imam Ghozali).

 Empat perkara mengangkat seorang hamba kederajat paling tinggi, walaupun amalannya dan pengetahuannya sedikit, yaitu lemah lembut, rendah hati, murah hati, dan bagus akhlak. Dan itulah kesempurnaan Iman (Abul Qosim al Junaid).

 Kemurahan hati ialah tirai yang menutupi, sedangkan akal adalah pedang yang amat tajam, oleh sebab itu, tutupilah kekurang sempurnaan pekertimu dengan kemurahan hatimu, dan perangilah hawa nafsumu dengan akalmu. (S. Ali)

 Orang yang bijaksana mencari kesempurnaan, tetapi orang bodoh mencari kekayaan. (J.L. Basford)

 Sesempurna-sempurnanya orang mu’min adalah yang baik budi pekertinya, dan sebaik-baiknya kamu adalah yang terbaik pergaulannya terhadap istrinya (H.R. Turmudzi)

 Hendaklah berfikir dua kali sebelum berbicara, karena telinga dua, dan lidah hanya satu. Orang bijaksana selalu berlidah di hati, sedang orang jahil berlidah-lidah. Karena itu yang berkata hati bukan lidah, orang yang sedang marah, yang berkata bibirnya, bukan hatinya berfikir itulah kelebihan.

 Adalah semudah-mudah pekerjaan di dunia ini ialah mencela, sedangkan memperbaiki itu adalah yang paling sukar.
 Ada perkataan yang lebih panas dari bara api, lebih tajam daripada jarum, lebih sakit daripada digigit, lebih pahit daripada empedu, lebih keras daripada batu, dan lebih berbisa daripada ular.

 Lebih baik menolak dengan baik daripada memberi dengan kasar, atau disertai dengan kata-kata yang menyakiti hati.

 Menyisihkan perkataan itu sebagai menyisihkan uang palsu dengan uang tulen. Dengan kata-kata manis dan beramah-tamah, kita bisa menuntun gajah dengan sehelai rambut. Tetapi kucing dapat menjadi macan bila kita suka bersikap kejam.

 Orang yang sedang marah-marah dan berkata kasar, berarti ia sedang memamerkan kekasaran dan kebodohannya.

 Ditengah malam sunyi,kerjakanlah sembahyang, dengan demikian bathin akan menjadi tentram dan tenang, ketentraman dan ketenangan bathin mempertinggi produktivitas.

 Prayer is the biggest in the universe.

 Orang yang berdo’a tanpa beramal, bagaikan memanah tanpa busur.

 Yang menyebabkan matinya hati :
- Anda mengetahui hak Allah, tapi tidak menunaikannya.
- Anda membaca Al Qur’an, tapi anda tidak mengamalkan ajaran-ajarannya.
- Anda mengatakan cinta kepada Rasul, tapi anda tidak mengamalkan sunnah beliau.
- Allah berfirman “Sesungguhnya syetan itu musuh kamu sekalian, maka perlakukanlah sebagai musuh ( surat Al Fathir:6), lantas anda berkelompok dengan dia untuk berbuat berbagai dosa-dosa.
- Anda takut dengan neraka, tapi anda menganiaya badan anda dalam Neraka.
- Anda mengatakan cinta kepada syurga, tetapi anda tidak beramal untuk mendapatkan syurga.
- Apabila anda bangun dari tidur, anda melemparkan aib anda sendiri kebelakang punggung anda, dan anda membentangkan aib orang lain dihadapan anda, lantas anda membuat kemurkaan Tuhan, bagaimana Tuhan akan mengabulkan do’a anda?

 Alam laksana sebuah kitab yang besar yang terdampar dimuka kita, didalamnya cukup tertulis perjuangan hidup yang telah ditempuh manusia, ada yang baik, jujur, bahagia, dan ada pula yang jatuh, melarat dan sengsara, bagi orang arif ala mini untuk menjadi guru buat mengambil pelajaran.
 Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh ditepi jalan, ia dilempar dengan batu, tapi dibalas dengan buah (Sibli Abu Bakar)

 Hidup ini ibarat rumah sakit, dimana pasiennya selalu ingin ganti tempat tidur.

 Di dalam kehidupan seperti permainan catur, siapa dapat melihat jauh kedepan, maka dialah yang menang.

 Segala apa yang besar tidak selalu baik, tetapi segala sesuatu yang baik, adalah besar.

 Kehidupan adalah sepasang pohon berduri, dan seni adalah bunganya.

 Yang penting dalam dunia bukanlah tempat dimana kita berdiri, melainkan kejurusan mana kita akan pergi.
 Hidup adalah panggung sandiwara, belajarlah memainkan peranan masing-masing. Belajar menahan deritanya atau duduk sopan disisinya.

 Adalah kita dalam rahim 40 hari air, 40 hari darah, 40 hari daging setelah 120 hari ditiupkan roh, tersurat takdir: a. rezeki, b. ajal, c. amal, d. untung celaka, dan kebahagiaannya.

 Dalam persahabatan orang membutuhkan kepercayaan, dan dalam persahabatan dibutuhkan pengertian.

 Persaudaraan adalah mutiara yang halus (Al Ahnaf bin Qois)

 Barang siapa menyukai sesuatu, maka niscaya dia akan banyak menyebutnya.

 Cinta membuat orang lemah menjadi kuat, orang kuat menjadi lemah.
 Empat perkara yang menimbulkan cinta : muka jernih, ringan tangan, mencari persesuaian, sama dimulut dengan dihati.

 Orang yang mencintai tidak akan pernah khianat kepada yang dicintainya, tidak akan pernah menyakiti dan tidak akan pernah mengecewakan.

 Cinta dan keadilan tidak dapat dipisahkan, sebab cinta mengandung kejujuran dan amanat, sedang jujur dan amanat adalah tiang dari keadilan.

 Cinta akan terasa lebih indah apabila dalam keadaan derita dan air mata.

 Kegagalan dan kesengsaraan adalah guru yang keras dan kejam, yang bekerja demi kepentingan kita, yang tahu segi mana yang lebih dan sangat mencintai kita melebihi kita sendiri.

 Kunci sukses adalah mengisi bathin dengan anda dengan fikiran-fikiran konstruktif, keyakinan, dan kepastian. Lenyapkanlah fikiran ragu-ragu dan fikiran-fikiran ketidak percayaan terhadap diri sendiri.

 Cara yang paling baik untuk memperoleh pikiran yang tentram adalah bersikaplah tenang dan pikirlah tenang, isilah segera bathin anda dengan fikiran-fikiran yang membangun dan sehat.

 Kemalasan adalah penyebab utama segala kegagalan.

 Jika ingin mencapai yang tinggi, maka mulailah dari yang rendah.

 Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh, jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah kedua.

 Penyesalan hanyalah menyia-nyiakan energi yang dahsyat (Hansfield)

 Adalah lebih baik kegagalan dalam mencapai kemuliaan daripada kemenangan dalam mencapai kehinaan.

 Orang yang pernah jatuh itu biasa, tatapi orang yang jatuh bangun kembali itu luar biasa.

 Malas adalah kuburan bagi orang yang hidup (Yunan Nasution)

 Kalau mau bercita-cita maka harus bisa menahan segala penderitaan yang ada.

 Orang yang bisa berkembang jikalau dia bisa mengatasi kesukaran-kesukaran kerana itu harus bertekun dengan tekad maju terus, maskipun mendapat pukulan-pukulan dan rintangan. Makin besar kesulitan makin besar kemuliaan. Mati karena melaksanakan cita-cita adalah mulia, penderitaan dan kesusahan hidup adalah pengalaman berharga yang membuat seorang berjiwa besar. Tidak ada jalan yang senang menuju jalan keberuntungan hidup.

 Kesusahan adalah jalan yang pertama menuju kebenaran, kesengsaraan adalah guru yang baik, tetapi kesusahan adalah guru yang paling baik, harta benda melemahkan jiwa, tetapi kesusahan melatih untuk menguatkan jiwa. Kemakmuran dan kesenangan itu bukanlah ia dacin penimbang yang adil, teteapu kesusahan yang dapat mengukur dan menimbang siapa sahabat yang sejati.
 Kesusahan itu datangnya tidak diundang, akan tetapi dia tidak akan pergi kalau tidak diusir.

 Dari kesusahan dapat pengalaman, dari kesalahan dapat kesempurnaan, dari kekhilafan dapat kesadaran.

 Jadikanlah apa yang terjadi sebagai contoh bagi yang akan terjadi, sebab segala sesuatu banyak mengundang persamaan.

 “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi)

 “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi)

 “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Muslim)

 “Bertaqwalah kepada Allah dimana jua engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi keburukan dan bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi)

 Nabi pernah ditanya perihal orang yang paling banyak masuk syurga. Baginda menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (HR Tirmidzi)

 "Sesungguhnya engkau (Muhammad) mempunyai akhlak yang agung” (Al qalam : 4).

 Anas bin Malik ra. mengatakan : "Selama sepuluh tahun saya melayani rasulullah, belum pernah saya ditegur : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

 “Yang paling memberatkan mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

 Rasulullah pernah berkata “Aku diutus oleh Allah ialah untuk menyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad)

Sabtu, 19 September 2009

story topi hitam - putih

Ceritanya ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati nyokapnya pas ngelahirin dia. Sejak itu bokapnya jadi amat sangat workaholic sekali dan nggak married2 lagi. Ini anak tapi baik hati dan lemah lembut walaupun cuma diurus sama pengasuh saja.

Pas TK, sementara anak2 laen udah punya sepeda dia masih jalan kaki.

Pengasuhnya ngadu ke bokapnya, "Tuan, nggak kasian sama den Bagus? Masa sepeda nggak punya...apa tuan juga nggak malu?"

Iya..nih..bokapnya tuh tajir banget deh. Punya sekian perusahaan maka dipanggil-lah si anak, ditawarin mau sepeda yang kayak gimana merek apa..



dan si anak cuma bilang, "Aku nggak mau sepeda, Pi, aku dibeliin topi item topi putih aja.."

Lho kok gitu? Bingung dong bokapnya. "Kenapa topi item dan putih?"

"Nggak usah diterangin deh pi. Kalo papi punya uang yaa..beliin itu aja."

Yah, mengingat mereka nggak pernah ngobrol, dan ini anak juga masih TK, papinya pikir ya normal2 aja anak kecil minta topi item topi putih, jadi papinya nerima2 aja.

Nggak berminat lanjutin, maka tetep-lah tu anak dibeliin sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih, plus topi item dan topi putih.

Trus ni anak masuk SD lah. Pas itu musim sepatu roda. Sekian lama pengasuh pratiin, ni anak nggak minta2 dibeliin sepatu roda sama papinya. Sore2 cuma duduk aja. Sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim, katanya.

Pengasuhnya laporan pandangan mata dong ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi. "Nak, kamu mau dibeliin sepatu roda kayak temen2 kamu? Kok nggak bilang2 papi. Nggak masalah cuma beli sepatu roda aja...".

Si anak bilang,"nggak Pi, topi item dan topi putih saya udah rusak..dibeliin lagi aja..nggak usah beli sepatu roda. Lagian lebih murah topi kan Pi?"

Yee..si papi geram dong. Ni anak ngeremehin papinya sendiri, atau sok merendah? So, tetep si papi beliin sepatu roda, plus topi item dan topi putih.

Selang beberapa taun, ni anak masuk SMP. Cerita sama terulang. Sekarang temen2nya musim roller blade. Tren baru. Sementara sore hari, dia masih setia sama sepatu rodanya. Pas bokapnya pulang dari luar negri dan ngeliat anaknya doang yang pake sepatu roda, si papi malu banget. Gila, rumah gedong, perusahaan banyak, keluar negri terus...eeh anaknya ketinggalan jaman. Besoknya, di kamar anaknya udah ada sepasang roller blade baru dengan note: "Biar kamu nggak malu".

Malemnya di ruang kerja papinya ada note balesan: "Pi, kok nggak beliin topi item dan topi putih? Aku lebih suka itu."

Weleh, si papi pas liat note itu dongkol tambah bingung. Apaan sih istimewanya topi item dan topi putih? Emang bisa bikin die beken atau nge-tren?

Besoknya dan besoknya lagi si papi berkali2 nemuin note itu...hingga dia nggak tahan dan membelikan anaknya topi item dan topi putih untuk kesekian kalinya.

Bener, setelah dapet tu topi, si anak nggak ninggalin note-note buat bokapnya lagi.

Pas SMA, yang jaraknya rada jauh, si anak masih ber-bis ria, temen2ny udah ada yang bawa motor en mobil ke sekolahan. Suatu hari, tumben papinya di rumah, si anak pulang dianterin temennya yang mau ditebengin.

Papi malu banget.. Masa cuma untuk anak satu nggak bisa beliin mobil? Maka ditawarin anaknya. Si anak nolak dengan alasan mobil kurang praktis, lagian pengen topi item topi putih aja. Si bapak nggak terima penolakan. Karna anaknya udah gede, bisa berunding. Hingga tercetus keputusan si anak dibeliin motor plus topi item dan topi putih tentunya.

Dan si bapak kesel juga duong... Udah berapa taun dia beberapa kali beliin dua macem topi itu tanpa tau kenapa. Tapi si anak nggak ada keinginan dan kemauan ngasih tau sih.

Hingga tibalah masa kuliah. Karna seneng dan bangga masuk PTN, si anak dikadoin mobil. Sampe beberapa bulan si anak masih naek motoor aja.

Kuliah, pacaran, naek motor aja. Pacarnya juga bingung, kan dia punya mobil? Ditanya sama pacarnya, dijawab, abis papi nggak beliin topi item topi putih. Nggak ngerti anak sendiri sih!

So, pas makan malem bersama, si pacar bilang sama papi, kenapa si om nggak beliin topi item topi putih.

Si papi sebenernya sensitif sama para topi itu..huh..sampe pacar anak gue nyuruh2 jadi dia tanya balik dong kenapa. Si pacar bilang kalo mobilnya nggak akan dipake selama nggak dikasih topi itu juga. Papi bingung dong, di kamar anaknya udah segitu banyak topi item topi putih.

Buat apa sih, pikir papi. Tapi demi gengsi, anak orang lho yang nanya, maka besoknya udah ada topi item topi putih buat anaknya.

Suatu hari anaknya gaul ke Puncak bawa mobil, sama pacarnya. Yah,namanya anak muda, pas lagi di jalan, sipacar nyium dia en dia jadi grogi dan kecelakaan!! !

Segera di bawa ke rumah sakit, si papi juga ditelpon sama rumah sakitnya.

Tabrakannya parah. Mereka berdua nggak ada yang pake seatbelt, yang cewek mati seketika dan si cowok sudah sekarat. Si papi dateng ke RS.."gimana dok, anak saya?"

Dokter (dengan tampang empati penuh duka cita):"Maaf pak, kami tidak dapat berbuat banyak.. sepertinya memang sudah waktunya... sebaiknya bapak manfaatkan waktu terakhir.."

Perlahan si bapak masuk, nyamperin anaknya. "Pap, maafin saya..nggak hati2 bawa mobilnya.." si anak juga nangis karna pacarnya nggak tertolong. Si papi nenangin dia...akrablah dua manusia itu beberapa saat. Hingga si papi beranggapan ini saat terakhir. Dia inget penasaran dia tentang kenapa si anak selama ini selalu minta topi item topi putih.

"Nak, maafin papi selama ini yang selalu sibuk..kamu jadi kesepian..maafin papi, nak. Nggak sempet jadi orang tua yang baik."

Anaknya jawab,"nggak apa-apa pi, saya ngerti kok..Cuma sempet kesel kalo papi punya uang lebih malah beliin yang macem2....saya Cuma minta topi item dan topi putih aja kan?"

Si papi rasa timing-nya tepat nih, "KENAPA SIH KAMU SELALU MINTA TOPI ITEM TOPI PUTIH...ADA APA DENGAN TOPI2 ITU?" (pembaca juga penasaran kan..?)

Si anak jawab dengan terpatah2 dan susah banget, habis sudah sekarat dan masanya sudah hampir sampe..."sebab pi...saya... "
*hep*
Kepalanya rebah dan nafasnya hilang. Si anak sudah meninggal sebelum kasih tau papinya.


Nah, si papi aja yang udah hidup bareng anaknya aja ga tau...
apalagi gue yang cuma nyeritain ulang?